HarianBorneo.com, SAMARINDA – Ketua Komisi III DPRD Kota Samarinda, Deni Hakim Anwar, menekankan bahwa proyek revitalisasi Pasar Pagi harus menjadi momentum kebangkitan ekonomi rakyat berbasis pasar tradisional.
Ia menyebut, pembangunan pasar tidak hanya tentang memperbarui infrastruktur, tetapi juga menghidupkan kembali peran pasar sebagai pusat aktivitas ekonomi warga yang inklusif dan kompetitif di era modern.
“Pasar Pagi bukan sekadar tempat jual beli. Ini adalah jantung ekonomi masyarakat, terutama bagi pedagang kecil yang menggantungkan hidupnya dari sana. Maka revitalisasi ini harus menjawab kebutuhan mereka secara konkret,” ujar Deni.
Menurut politisi Partai Gerindra tersebut, desain pasar modern harus disesuaikan dengan karakteristik pasar tradisional: ramai, dinamis, dan berbasis interaksi sosial.
Ia menekankan agar penataan kios, jalur sirkulasi pengunjung, serta fasilitas umum dirancang agar mendukung kelancaran aktivitas perdagangan, bukan malah menyulitkan pelaku usaha kecil.
“Jangan sampai bangunannya megah, tapi pedagang merasa terpinggirkan. Kita ingin ini jadi pasar rakyat, bukan mal yang meminggirkan mereka yang selama ini bertahan di sektor informal,” tegasnya.
Revitalisasi Pasar Pagi yang kini memasuki tahap kedua dengan anggaran Rp148,5 miliar, mencakup sejumlah pekerjaan teknis seperti penyekatan kios, instalasi mekanikal elektrikal, eskalator, hingga pengolahan limbah. Tahap pertama sebelumnya menghabiskan Rp290 miliar untuk pembangunan struktur utama.
Deni juga mendorong agar revitalisasi ini disertai dengan program pendampingan usaha bagi para pedagang, seperti pelatihan digital marketing, akses permodalan mikro, dan sistem pembayaran non-tunai. Langkah ini dinilainya penting agar pasar tradisional mampu bersaing dengan pusat perbelanjaan modern.
“Pasar rakyat juga harus siap menghadapi perubahan zaman. Tapi tetap harus dengan ciri khas yang membedakannya, yakni interaksi sosial, harga terjangkau, dan kedekatan dengan masyarakat,” katanya.
Ia berharap Pasar Pagi bisa menjadi contoh pasar modern yang tetap mempertahankan semangat kerakyatan. “Kalau dikelola dengan baik, Pasar Pagi bisa jadi ikon kota sekaligus simbol keberhasilan modernisasi tanpa menghilangkan ruh pasar tradisional,” pungkas Deni. (RD/Adv/DPRDSamarinda)











