HarianBorneo.com, TENGGARONG – Proyek kawasan pertanian terpadu Sebulu–Muara Kaman mulai menunjukkan hasil nyata. Camat Sebulu, Edy Fachruddin, menerangkan bahwa akses jalan baru sepanjang 4,2 kilometer telah membuka isolasi 600 hektare sawah produktif milik petani setempat.
“Sebelumnya gabah harus diangkut lewat jalur sungai yang memakan biaya tinggi. Sekarang truk bisa masuk sawah, biaya transport turun 40 persen,” kata Edy.
Program ini melibatkan Kodim 0906/Tenggarong yang mengerahkan alat berat untuk percepatan pengerjaan tanggul dan drainase. Sinergi TNI dan masyarakat mempercepat pekerjaan dua bulan lebih cepat dari jadwal.
Dengan terbukanya akses, petani didorong memakai varietas padi IR 64 unggul berumur pendek. Dinas Pertanian Kukar menyiapkan demplot teknologi System of Rice Intensification serta pelatihan drone semprot pestisida.
“Target kami, produktivitas naik dari 4,5 menjadi 6 ton per hektare. Kalau berhasil, suplai beras lokal ke pasar Tenggarong akan stabil,” jelas Edy.
Selain padi, lahan kosong di pinggir tanggul direncanakan untuk tanaman hortikultura jangka pendek guna menambah pendapatan. Petani muda magang di Balai Besar Pelatihan Pertanian telah diproyeksikan sebagai operator teknologi di lapangan.
Edy menegaskan bahwa kunci keberhasilan kawasan terpadu bukan hanya infrastruktur, tetapi juga manajemen kelembagaan. Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) dibina menjadi koperasi pemasaran yang mampu menawar harga gabah lebih baik.
“Pertanian terpadu harus melahirkan rantai nilai utuh — dari produksi, pengolahan hingga pemasaran,” tegasnya. Ia berharap, model Sebulu‑Muara Kaman dapat direplikasi di kecamatan lain untuk meningkatkan swasembada beras Kukar. (VY/Adv/DiskominfoKukar)











