HarianBorneo.com, TENGGARONG – Terobosan infrastruktur kelistrikan di Kecamatan Anggana menorehkan capaian baru. Desa Muara Pantuan resmi menikmati layanan listrik 24 jam setelah proyek upgrading jaringan rampung pada akhir Maret lalu. Camat Anggana, Rendra Abadi, menyebut keberhasilan ini buah sinergi PLN, Pemkab Kutai Kartanegara, dan swadaya masyarakat.
“Dulu warga menyalakan lampu bergantian karena listrik hanya separuh hari. Kini aktivitas ekonomi malam makin hidup, anak‑anak bisa belajar lebih lama,” tutur Rendra.
Perluasan jaringan dicapai melalui pemasangan trafo 250 kVA, penarikan kabel tegangan menengah sepanjang 12 kilometer, serta penggantian ratusan tiang kayu menjadi beton. Anggaran proyek bersumber dari dana CSR PLN dan bantuan keuangan kabupaten yang dialokasikan dalam skema percepatan desa terang.
Rendra menjelaskan, desa lain seperti Tani Baru dan Sepatin masih bergantung pada genset komunal. Untuk Tani Baru, kapasitas mesin 80 kVA kerap defisit saat beban puncak. Pemerintah sudah menyiapkan proposal pengadaan generator 200 kVA berikut jaringan kabel bawah tanah guna meminimalkan kebisingan dan polusi.
“Khusus Sepatin, kami sudah plot Rp5 miliar untuk penambahan genset dan jaringan. Targetnya sebelum akhir 2025, seluruh desa di Anggana menikmati listrik tanpa henti,” tegas Rendra.
Ia menilai listrik bukan sekadar terang, melainkan fondasi transformasi digital desa. Posyandu kini mulai memakai aplikasi pencatatan daring, pengusaha rumahan mengoperasikan mesin pengering hasil perikanan, dan UMKM kopi lokal menyeduh biji sangrai dengan roaster listrik berdaya besar.
Rendra mengajak warga menjaga instalasi dan melaporkan gangguan secepatnya agar umur peralatan panjang. “Partisipasi masyarakat menjaga trafo dan tiang sama pentingnya dengan membangun,” ujarnya. (VY/Adv/DiskominfoKukar)











