HarianBorneo.com, SAMARINDA – Wakil Ketua Komisi III DPRD Kota Samarinda, Samri Shaputra memberi perhatian serius terhadap Pembangunan terowongan Samarinda. menurutnya, opsi pembangunan terowongan ini kurang efektif dan akan membebani anggaran pemerintah dengan biaya operasional yang besar di masa depan.
Samri mengusulkan alternatif lain yang lebih efisien dan ekonomis bagi masyarakat Samarinda, yaitu pemotongan gunung atau pembangunan fly over. Kedua opsi tersebut dinilai lebih praktis dan tidak memerlukan biaya operasional yang berkelanjutan.
“Saya selalu sampaikan dengan dinas PUPR, ketika pilihan tiga opsi kemarin itu, potong gunung, bikin fly over, atau terowongan. Kalau 2 tawaran saya itu potong gunung karena alasan disana kan sering terjadi kecelakaan disana sebab tanjakan tinggi, atau fly over tapi alasannya fly over itu terlalu besar biayanya,” jelas Samri, pada Selasa (28/05/2024).
“Nah yang mana lebih besar, terowongan itu ada biaya yang berkelanjutan itu tidak ada habisnya selama terowongan itu di pakai,” tambahnya.
Samri menegaskan bahwa meskipun biaya awal pembangunan fly over atau pemotongan gunung mungkin besar, namun biaya operasionalnya akan jauh lebih rendah dibandingkan dengan terowongan yang memerlukan pemeliharaan rutin, termasuk biaya listrik untuk lampu dan blower yang harus menyala terus menerus.
Samri juga mengkritik alasan Pemkot Samarinda yang memilih terowongan dengan pertimbangan biaya pembangunan yang lebih murah. Menurutnya, Pemkot tidak memperhitungkan biaya operasional jangka panjang yang justru akan lebih besar dan terus menerus.
“Kalau baru lampu jembatan yang nyalanya aja seminggu sekali mau coba coba buat terowongan yang lampunya nayala 24 jam. Karena itu bukan hanya lampu, blower juga besar itu listrik nya dan harus nyala terus itu,”
Lebih lanjut, Samri membeberkan alasan Pemkot memilih terowongan adalah untuk mengurangi biaya, padahal nyatanya terowongan memerlukan biaya yang continue dan jangan sampai mati.
“Kemarin alasan pemkot kenapa memilih terowongan, katanya itu lebih murah biaya pembangunannya, tapi dia tidak menghitung biaya yang berkelanjutan itu bahkan lebih besar dan itu tidak akan ada habisnya harus jalan terus selama terowongan itu di pakai,” tutupnya. (MR/Adv/DPRDSamarinda)
Penulis : Riduan
Editor : Fai











