Harianborneo.com, SAMARINDA – APBD Samarinda tahun 2023 yang sebelumnya sebesar Rp3,9 triliun, naik senilai Rp4,7 triliun dan dari angka itu 80 persennya dialokasikan untuk pembangunan fisik.
DPRD mengkritisi kebijakan ini sebab dana tersebut akan digunakan untuk pekerjaan pembangunan infrastruktur Pemkot Samarinda sampai akhir tahun dan menuntaskan berbagai program yang belum selesai. Mulai dari revitalisasi pasar, perbaikan jalan, hingga drainase. Untuk itulah alokasi terbesar penggunaan dana diproyeksikan untuk menggenjot pembangunan fisik, yakni sebesar 80%.
Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kota Samarinda Sani bin Husain mengatakan Pemkot Samarinda harus mempertimbangkan pengalokasian dana mengingat angka stunting di Samarinda masih tinggi.
“Ini jadi paradoks. APBD tinggi, tapi stunting juga tinggi. Harusnya kalau banyak uang kan nggak ada yang stunting,” tegasnya.
Dikatakanya secara data, perumpamaannya 1 dari 4 bayi yang baru lahir terkena stunting alias kurang gizi.
Menurut Sani, pembangunan manusia sangat diperlukan dan di priorotaskan untuk menghasilkan generasi berkualitas, tak kalah penting dibanding dengan pembangunan secara fisik.
“Gimana kita mau bangun SDM kalo banyak yang stunting. Uang susunya lari ke aspal, ke semen. Kan isi kepala kita nggak bisa dikasi semen,” sindirnya.
Lebih lanjut diungkapkannya mumpung ada dana, jadi bisa lebih memperhatikan kesejahteraan masyarakat. Dimulai dari membenahi stunting. Karena jika pembangunan manusianya berhasil, maka pembangunan kota secara fisik akan lebih mudah untuk berhasil.
Pembangunan manusia, lanjut Sani, dampaknya bisa jangka panjang dibanding pembangunan fisik. Bahkan esensi dari pembangunan kota adalah pembangunan manusia itu sendiri.
“Kalau fisik paling 10 tahun hancur, 20 tahun hancur. Kalau warganya berkualitas bisa membangun kota seterusnya. Itu jadi landasan, mau jadi kota peradaban, kan warganya harus berkualitas,” jelasnya.
Sani mengajak bercermin pada negeri Sakura. Alias Negara jepang yang dikenal maju baik secara manusia maupun bangunannya.
“Jepang hancur yang ditanya para guru. Berapa guru yang tersisa. Itu kiasan untuk kembali membangun generasi unggulan di masa datang,” pungkasnya. (Py/Adv/DPRDSamarinda)











