HarianBorneo.com, BALIKPAPAN – Suasana hangat namun serius terasa begitu kuat di ruang pertemuan Hotel Novotel Balikpapan. Bupati Penajam Paser Utara (PPU), Mudyat Noor, duduk berdampingan dengan para pemimpin media siber dari berbagai wilayah Kalimantan Timur—mengawali sebuah percakapan yang bisa jadi menentukan arah narasi pembangunan di kawasan strategis penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN).
Pertemuan ini bukan sekadar temu kangen antar rekan seprofesi. Ini adalah panggung kecil untuk urusan besar: menyatukan langkah antara pemerintah dan media dalam membangun persepsi publik yang positif, konstruktif, dan berpijak pada realitas.
Di ruang itu, yang hadir antara lain ketua Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Kaltim, PPU, Balikpapan, dan Kutai Kartanegara (Kukar), daerah-daerah yang kini menjadi simpul utama dalam pembangunan IKN.
Bagi Bupati Mudyat Noor, media bukan sekadar alat penyampai berita. Ia menyebut mereka sebagai audiens yang aktif – mitra yang tak hanya melihat, tapi juga berjalan bersama dalam proses pembangunan.
“Teman-teman JMSI ini audiens lah,” ujarnya santai namun tegas. “Mereka siap bekerja sama mendukung penuh proses pembangunan di PPU.”
Dalam pandangannya, keterbukaan informasi menjadi tulang punggung komunikasi publik. Namun informasi yang dibutuhkan bukan yang bombastis atau sensasional, melainkan yang utuh, berimbang, dan mengedukasi.
“Harapannya, JMSI bisa memperlancar pembangunan dengan menyampaikan informasi yang bagus dan berimbang kepada masyarakat,” kata Mudyat.
Ia menyadari bahwa tanpa dukungan media, pesan-pesan pembangunan bisa saja hilang di tengah riuhnya ruang digital yang semakin padat dan tak selalu akurat.
Suara serupa datang dari Ketua JMSI Kaltim, Mohammad Sukri. Ia menyambut baik ajakan sinergi itu. “Media bukan hanya pelengkap demokrasi. Ia mitra strategis pemerintah, terutama di wilayah yang kini jadi magnet perhatian nasional dan internasional,” katanya.
Sukri menyebut PPU, Balikpapan, dan Kukar bukan sekadar tetangga IKN. Mereka adalah titik-titik vital yang menyangga ekosistem ibu kota baru. Maka, narasi pembangunan yang terstruktur dan positif menjadi bagian penting dari keberhasilan proyek besar ini.
Namun, jalan menuju pembaruan citra bukan tanpa rintangan. Ia menyinggung tantangan terbesar dalam kerja media hari ini: mengubah persepsi.
“Masih banyak stigma yang melekat di kawasan penyangga IKN. Media harus mampu menyajikan wajah baru yang layak dipercaya: bahwa kawasan ini adalah masa depan bangsa, bukan sekadar bayang-bayang dari masa lalu,” tegasnya.
Pertemuan di Balikpapan ini mungkin hanya sebuah langkah awal. Namun, ia menjadi simbol penting tentang bagaimana komunikasi antara pemegang kebijakan dan penyampai pesan dapat dimulai dalam semangat kolaboratif.
Lebih dari itu, ini adalah awal dari janji bersama untuk menganyam narasi pembangunan yang bukan saja menyentuh logika, tetapi juga hati masyarakat. Dari Penajam hingga Kukar, dari ruang berita hingga ruang rapat pemerintahan—narasi baru Benua Etam sedang dirintis, dan semua pihak kini mulai bergerak bersama. (MR)











